Arsip

Archive for the ‘News’ Category

Ciri Karyawan Bermental Wirausaha

Desember 16, 2011 Tinggalkan Komentar

Menjadi seorang wirausaha bukan berarti Anda harus selalu keluar dari pekerjaan dan memulai bisnis Anda sendiri. “Kategori seorang wirausaha tidak harus selalu seperti itu,” ungkap psikolog Tika Bisono kepada Kompas Female, dalam acara SWOMA (Sekar Womenpreneurship Awards) di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Minggu (11/12/2011) lalu.

Meski secara harafiah, wirausaha adalah orang yang memulai bisnisnya sendiri sehingga ia sendiri menjadi bosnya, namun wirausaha juga memiliki arti yang lebih luas. Menurut Tika, dalam artian luas wirausaha lebih cenderung mengacu pada mental atau sifat seseorang untuk berusaha. Maka sebenarnya semua orang pun bisa disebut wirausaha meskipun ia tak memiliki atau belum memiliki usahanya sendiri.

Bahkan semua karyawan kantor juga bisa disebut sebagai seorang wirausaha, asalkan ia memiliki sifat atau mental sebagai wirausaha, yang diaplikasikan ke dalam kegiatan pekerjaannya.

1. Bersikap hemat
Dengan bersikap hemat, Anda sudah memiliki sifat-sifat seorang wirausaha sejati. Sifat hemat dalam diri seorang wirausaha bisa membuat banyak perubahan dalam strategi bisnis dan menekan pengeluaran berlebihan. “Ketika membuat rencana keuangan di kantor, biasakan untuk menghemat pengeluaran tersebut agar rencana keuangan kantor tidak terganggu,” tukasnya.

2. Inovatif
Kreatif dan inovatif merupakan salah satu syarat penting yang dimiliki seorang wirausaha. Dalam dunia kantoran, inisiatif, inovasi, dan kreativitas juga sangat dibutuhkan untuk memajukan perusahaan tempat Anda bekerja. “Misalnya suatu saat Anda memiliki ide untuk mempromosikan produk. Meski bukan bagian dari tugas Anda, tapi tak ada salahnya untuk menyumbang ide yang bagus. Siapa tahu bermanfaat untuk memajukan perusahaan,” beber Tika.

Berjiwa kreatif dan inovatif dalam pekerjaan tidak hanya berguna untuk memupuk jiwa wirausaha dalam diri saja, tetapi juga untuk melatih kemampuan berpikir jernih dan mencari celah usaha dan memanfaatkannya dengan positif. “Bisa juga nantinya berguna untuk naik jabatan, karena inovasi Anda,” tukasnya.

3. Berjiwa besar
Setiap hal yang dilakukan tak jarang akan berakibat pada kegagalan. Namun jika Anda memiliki jiwa wirausaha, seharusnya hal ini tidak akan membuat Anda merasa kalah. Justru, semangat Anda terpacu untuk maju dan berusaha lebih baik lagi. “Ketika ide Anda ditolak, atau misalnya ada karyawan baru yang dinilai lebih aktif, maka Anda harus berjiwa besar dan justru menjadi semangat Anda untuk maju,” tambahnya.

4. Disiplin
Setiap pekerjaan pasti menuntut kedisiplinan yang tinggi. Kemampuan disiplin diri yang tinggi akan membuat Anda sukses dalam setiap pekerjaan yang Anda lakukan. “Dalam hal disiplin diri, perempuan lebih unggul dibanding pria,” tegas Tika.

Visi Sama Bikin Hubungan Mesra

Juni 30, 2011 Tinggalkan Komentar

 

KOMPAS.com - Komunikasi menjadi kunci kehangatan dan kemesraan hubungan pasangan suami istri. Pasutri yang memiliki kegemaran sama bisa menjadi salah satu faktor cairnya percakapan. Dengan begitu, baik suami mau pun istri, leluasa mengungkapkan apa saja, tak ada salah paham yang kadang bikin hubungan pasutri renggang.


Obolan soal musik selalu “seksi” bagi pasangan musisi, Endah dan Rhesa. Pasangan ini mengaku menikah karena musik, menjalani kehidupan pribadi dan rumah tangga juga karena musik, dan musik yang selalu menyatukan keduanya, di panggung juga di luar penampilan duo-nya.


“Setiap kali di kendaraan, obrolan yang keluar pasti selalu seputar musik. Tentang lagu bagus, video klip yang bagus, apa saja tentang musik. Kesamaan hobi dan perhatian inilah yang bikin kita selalu merasa nyaman,” aku Endah kepada Kompas Female seusai membawakan dua lagu menghibur tamu undangan dalam acara makan malam di kediaman Martha Tilaar belum lama ini.


Rhesa menambahkan fokus utamanya bersama istri, 70 persen adalah untuk musik, 30 persennya untuk rumah tangga. Kecintaan keduanya terhadap musik membuat hubungan pasutri tetap nyaman kapan saja dan di mana saja. Meski satu profesi dengan panggung yang sama, Endah dan Rhesa mengaku nyaman dengan kehidupannya sebagai musisi dan pasutri. Tak sulit bagi keduanya menjalani hubungan sebagai pasangan dan mitra kerja.


“Yang penting komunikasi sehingga bisa saling mengisi. Rhesa sangat mengandalkan logika, dan saya tertular dengan caranya merespons sesuatu dengan logika sehingga bisa mengesampingkan sisi emosional saya,” jelas Endah yang menikahi Rhesa pada Desember 2009 silam.


Pasangan musisi yang mulai berpacaran sejak 2004 silam ini mengaku pernikahan membuat keduanya semakin berani bereksplorasi di panggung. Endah dan Rhesa tak lagi canggung bermesraan bermain gitar di atas panggung. Justru penampilan pasutri musisi ini menjadi semakin menarik dan punya daya tarik.


Fokus yang sama
Endah dan Rhesa kompak sebagai pasutri tak hanya di panggung. Dalam keseharian, keduanya saling memahami dan tak menuntut peran dalam rumah tangga.


“Saya lebih marah kalau Endah nggak latihan gitar ketimbang nggak bikinin kopi. Peran istri dalam rumah tangga seperti itu bukan jadi perhatian kita,” kata pria kelahiran 15 November 1983 ini, disambung oleh Endah, “Saya kadang merasa terbebani karena tak bisa ‘melayani’ sebagai istri. Saya belum bisa masak. Tetapi saya dan Rhesa tidak melihat itu sebagai masalah. Musik yang menyatukan kami dan membuat persoalan rumah tangga soal peran-peran seperti itu bukan menjadi sumber friksi,” jelas perempuan kelahiran 4 Mei 1983 ini


Selain disatukan oleh musik, pasangan ini mengaku nyaman dalam hubungan karena komunikasi dan juga toleransi. Sikap saling pengertian, yang dipicu karena perhatian  utama tertuju pada dunia musik, membuat keduanya semakin menikmati kehidupan pasutri yang merangkap mitra kerja. “Masalah personal dikalahkan oleh musik,” aku keduanya, yang lebih menikmati “we time” dengan bersantai di rumah atau menonton film di bioskop.

Categories: News Tag:, ,

Sukses dalam Karier ala Keraton

Juni 29, 2011 Tinggalkan Komentar

Kepemimpinan dalam karier dibutuhkan, Anda bisa belajar dari prinsip keraton Jawa.

KOMPAS.com – Keraton identik dengan nilai tradisi yang kerapkali dianggap ketinggalan zaman. Namun nyatanya, nilai luhur kepemimpinan yang diajarkan di dalam keraton masih relevan dilakukan di masa modern kini. Menurut Raja Keraton Surakarta Pakoe Boewono XIII Tedjowulan, filosofi kearifan Jawa yang dipahaminya bisa menjadi teladan bagi generasi muda, termasuk ketika menjalani kepemimpinan dalam karier.

“Kepemimpinan, harus berada di tangan orang yang utuh, yang memenuhi ‘wewaler’,” ujar Tedjowulan dalam sambutannya usai acara Wisudan Santana di Aula Sasono Wiwoho, Jalan Mangunsarkoro 69, Menteng, Jakarta, Minggu (26/6/2011) lalu.

Tiga prinsip “Wewaler”
“Wewaler” yang dimaksud Tedjowulan mengandung tiga makna. Pertama, pemimpin harus
mendalami makna hidupnya dan mengusahakan agar hidupnya seimbang dan selaras. Misalnya dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan, keduanya harus bisa diatur dengan seimbang sehingga tak ada yang merasa dipinggirkan. Para perempuan modern sudah mulai bisa melakukan ini, yakni tetap fokus pada keluarga meski menjalani karier yang sangat sibuk.

Kedua, pemimpin harus terlatih sehingga mampu menangkap isyarat perubahan zaman. “Ia hendaknya mencita-citakan kaprawiran, keluhuran budi, serta mengekang diri dan prihatin,” jelas Tedjowulan.

Menjaga nilai luhur namun berpikiran terbuka

Tetap mempertahankan tradisi yang baik dari leluhur adalah hal yang baik, namun pemimpin harus juga bisa terbuka terhadap hal-hal baru. Caranya, dengan menjadi perempuan yang open minded, namun bersikap dan bertingkah laku yang patuh tradisi. Dengan begitu, Anda menjadi teladan yang seimbang bagi sekitar, tambahnya.

Ketiga, pemimpin seyogyanya memahami Filsafat Kepemimpinan Jawa, Hasta Brata dan Tri Bata. Tedjowulan menjelaskan filosofi Tri Bata yang masih relevan diaplikasi di masa kekinian:

* Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
Dengan merasa ikut memiliki, seorang pemimpin akan bisa menyatu dengan yang dipimpinnya. Saling menjaga apa yang sedang diperjuangkan bersama, sehingga perintah yang keluar pun untuk kepentingan bersama, bukan karena ego pribadi.

* Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut membela dengan ikhlas)
Membela bawahan yang melakukan kesalahan mungkin bisa dilakukan selama Anda yakin bawahan bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membela perusahaan dalam banyak hal bisa juga Anda lakukan, bukan hanya sebatas profesionalitas, namun karena Anda memang mencintai profesi dan tempat bekerja saat ini.

* Mulat sariro hangrasa wani (mawas diri dan memiliki sifat berani untuk kebenaran)
Mawas diri berarti berhati-hati. Dalam mengambil keputusan, banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Melihat masalah dari berbagai sudut pandang akan membantu diri lebih bijak dalam menilai sesuatu kemudian memutuskan. Jika keputusan yang Anda ambil sudah melalui tahap pertimbangan yang matang, maka Anda akan berani mmebela keyakinan meski ditentang
orang lain.

Categories: News Tag:, , ,

Pancake Yoghurt Berries

Juni 29, 2011 Tinggalkan Komentar

 

Bahan:
800 ml susu cair
2 butir telur
76 gr gula pasir
375 gr tepung terigu
1 sdm baking powder
1 sdm butter
1 botol selai blackberry (atau jenis lain sesuai selera)
1 kemasan plain yoghurt
garam dan gula pasir secukupnya


Cara membuat:
1. Masukan tepung terigu dan garam kedalam mangkuk besar.
2. Di mangkuk terpisah, campur susu cair dengan telur dan sedikit gula pasir, aduk.
3. Perlahan tuang adonan susu kedalam mangkuk yang berisi tepung terigu hingga tercampur rata.
4. Panaskan wajan yang telah diolesi sedikit butter, ratakan mentega hingga menyebar rata keseluruh wajan.
5. Tuang adonan pancake sekitar 1 sdm. lalu bolak balik adonan sampai matang. ( hidangan ini sengaja dibuat tidak terlalu tebal agar lebih gurih. ini adalah salah satu ciri khas pancake ala Cekoslovakia).
6. Dinginkan, lalu tumpuk tiap lembaran pancake keatas piring rata.
7. Saat siap menjamu, langsung sajikan pancake. Oleskan bagian dalamnya dengan selai blackberry, lalu tambahkan dengan 1 sdt yoghurt. Taburkan potongan buah stroberi dan blackberry segar.
8. Gulung pancake, lalu kembali taburkan beberapa potong buah segar diatasnya.
9. Bisa juga ditambahkan saus stroberi atau coklat sesuai selera.


Resep: Party At Home (www.partyathome.co.id)

Categories: News Tag:, ,

Cari Pasangan dengan Mengenal Tipe Kepribadian

Juni 29, 2011 Tinggalkan Komentar

 

KOMPAS.com – Mengenal kepribadian diri sendiri, dan belajar memahami perbedaan kepribadian orang lain, punya dampak besar. Anda tak hanya sekadar lebih mampu mengenali diri dan lebih bijak. Dengan memahami berbagai tipe kepribadian, Anda juga terbantu dalam membangun hubungan.


Praktisi komunikasi dan presenter, Erwin Parengkuan, dalam bukunya Click menjelaskan, memelajari tipe kepribadian akan memberikan manfaat besar ketika harus membangun hubungan dengan orang lain. Erwin juga mengatakan, dengan memelajari tipe kepribadian diri sendiri, Anda bisa mendapatkan pasangan hidup yang tepat dan sesuai dengan kepribadian.


Hanya dengan mengenal diri, Anda bisa mengetahui apa yang Anda mau dan butuhkan, termasuk bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain yang memiliki kepribadian berbeda. Erwin menyebutkan sejumlah manfaat yang bisa Anda dapatkan jika mengenal beragam tipe kepribadian:


* Dapat berkomunikasi lebih baik dengan melakukan pendekatan yang tepat berdasarkan kepribadian lawan bicara.


* Membantu Anda untuk lebih persuasif dalam memilih gaya komunikasi.


* Meningkatkan kemampuan Anda dalam menyampaikan gagasan dan ide tepat sesuai kepribadian lawan bicara.


* Membuat Anda lebih disukai orang lain.


Jika semua kemampuan dan kualitas diri ini Anda miliki, tentu usaha untuk mendapatkan pasangan akan lebih mudah. Kunci utamanya, pelajari tipe kepribadian. Mulai dari diri sendiri, dan lanjutkan dengan sikap terbuka untuk memahami orang lain.

Categories: News Tag:, , ,

Agar Liburan Tak Merusak Diet

Juni 29, 2011 Tinggalkan Komentar

KOMPAS.com – Kebiasaan mengatur pola makan sehat semestinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Anda. Jangan menjadikan diet sehat sebagai beban, atau hanya dijadikan program jangka pendek dengan waktu tertentu saja.


Jika program diet sehat Anda jalankan sepanjang waktu, maka saat berlibur pun sudah seharusnya Anda tetap konsisten mengatur pola makan. Meski saat liburan Anda bebas melakukan apa yang disuka, sebagai salah satu cara menyegarkan diri dan pikiran, tak lantas Anda bablas mengonsumsi apa saja.


Supaya tidak merusak diet Anda, berikut beberapa tips yang bisa diikuti, baik saat memasak sendiri di rumah maupun bepergian:


1. Pilih daging yang bebas lemak 95 persen, pilih bagian has dalam.
2. Kalau tak ada pilihan, dan terpaksa membeli daging kalengan, pilih yang tidak mengandung sodium. Bisa dilihat di labelnya.
3. Pilih makanan yang tidak terlalu asin, terutama makanan kecil.
4. Pilih salad dengan dressing olive oil, bukannya mayonaise.
5. Panggang atau rebus sayuran daripada digoreng.
6. Gunakan minyak nabati seperti olive oil untuk menumis daripada mentega atau margarin.
7. Pilih roti gandum daripada  roti putih dari terigu.
8. Pilih madu daripada menggunakan gula.
9. Kurangi gula dalam jus.
10. Masak sendiri makanan ringan, daripada membeli makanan siap jadi agar bebas dari bahan kimia.


Sejumlah tips tadi sangat mungkin Anda terapkan saat berbelanja, baik untuk kebutuhan sehari-hari, mau pun saat bepergian. Saat berlibur ke luar kota misalnya, Anda bisa menemukan minimarket yang menyediakan kebutuhan ini. Meski pun pilihan makanan siap saji tersedia dan menggoda mata, tahan godaan lapar mata, dan kuasai pikiran Anda untuk menikmati hidangan yang dimasak sendiri atau pilihan makanan sehat yang menyempurnakan diet Anda.


Sementara saat berada dalam pesawat, Anda bisa menyiapkan bekal makanan selama dalam perjalanan. Jika pun tak ada pilihan makanan lain saat di pesawat, usahakan hindari sejumlah makanan yang sekiranya merusak diet Anda. Bagaimana pun Anda tetap butuh makan agar tak kelaparan selama perjalanan.


(Chic/Erika)

Categories: News Tag:,

Tahapan Dalam Menjalin Hubungan Cinta

Juni 14, 2011 Tinggalkan Komentar

Cinta memang selalu menjadi teka-teki buat semua orang, baik wanita maupun pria. Perasaan bosan, benci, jengkel atau sebal terkadang muncul di sela-sela rasa sayang Anda terhadap pasangan. Namun dengan mengenal ‘cinta’, seseorang akan lebih mudah memahami serta mengelola hubungan dengan pasangannya. Sehingga pada muaranya, hubungan tersebut akan menjadi indah dan abadi. Dalam setiap hubungan cinta, ada tiga tahapan yang akan Anda lalui:


1


. Tahap Pertama: Cinta Romantis. Terjadi pada tahun-tahun pertama hubungan. Hubungan fisik adalah penguat kekuatan cinta. Anda berdua berada dalam tahapan yang saling berempati, merespon dengan stimulus sekecil apapun dari pasangan. Kekuatan emosi sangat berperan.


2. Tahap Kedua: Mempertahankan Kekuatan Cinta. Anda berdua mencoba mengarahkan pasangan ke bentuk ideal di mata Anda. Ada sejumlah harapan yang Anda inginkan dari pasangan. Bila harapan tersebut tidak terpenuhi, maka Anda cenderung kecewa. Begitu pula sebaliknya.


Pada tahapan ini biasanya pertengkaran mulai terjadi. Kalaupun tidak terjadi pertengkaran, biasanya karena salah satu atau kedua-duanya mencoba tetap menahan diri. Proses melampaui “tahap konfrontasi” ini membuat Anda berdua belajar untuk lebih matang melihat hubungan dan belajar meneriman pasangan.


3. Tahap Ketiga: Penerimaan Pasangan. Pada tahap ini, kematangan kedua belah pihak semakin teruji. Mereka sudah memasuki wilayah penerimaan pasangan, dan tidak mau mengubah diri untuk kebaikan berdua. Anda juga bisa melihat kelemahan pasangan sebagai suatu hal yang perlu dibantu, bukan untuk dikonrontir. Tahap ini juga sering disebut sebagai “tahap realistis”.


 

Categories: News Tag:, , , ,

5 Kategori Pernikahan Modern

Juni 10, 2011 Tinggalkan Komentar

KOMPAS.com – Pasangan modern cenderung mempertahankan pernikahan karena status atau anak, bukan cinta. Cinta semakin pudar dalam pernikahan modern. Tak sedikit pasangan modern memiliki perasaan mengambang dalam pernikahannya, antara bertahan atau bercerai.

Inilah yang coba diungkapkan Pamela Haag dalam bukunya In Marriage Confidential: The Post-Romantic Age of Workhorse Wives, Royal Children, Undersexed Spouses and Rebel Couples Who Are Rewriting The Rules. Buku mengenai pernikahan ini diterbitkan oleh penerbit asal New York, Amerika, HarperCollins, divisi dari News Corporation milik Rupert Murdoch.

Haag, ibu satu anak yang mengaku masuk kategori semi-bahagia dengan pernikahannya, membagi lima kategori pernikahan modern:

Pernikahan semi-bahagia

Dalam bukunya, Haag memaparkan setiap orang sering mengalami perasaan ambigu mengenai pernikahannya. Kadang merasa pernikahannya baik-baik saja, bahkan membahagiakan. Namun ada kalanya, muncul pemikiran bahwa orang tersebut merasa tak bisa lagi hidup bersama pasangannya. Kalau Anda merasakan hal ini sepanjang pernikahan, tandanya Anda masuk kategori pernikahan semibahagia.

Pernikahan untuk pengasuhan anak

Anak menjadi satu-satunya penyelamat pernikahan. Inilah yang mendasari pernikahan kategori ini. Anak menjadi pusat perhatian seluruh anggota keluarga. Suami dan istri punya peran yang sama dalam pengasuhan anak. Keduanya terlibat dalam urusan anak, di mana anak menjadi prioritas. Namun pernikahan sebatas menjalani peran ayah dan ibu, memenuhi kebutuhan anak.

Pernikahan dengan istri pekerja keras

Pernikahan ini dibangun dalam relasi suami istri di mana istri bekerja keras untuk pekerjaan yang tak disukainya. Istri bekerja pada perusahaan besar, yang tak begitu disukainya, demi menafkahi keluarga. Dengan suami yang mengejar mimpi sebagai profesional sebagai musisi atau hal lainnya.

Sindrom “Ed McMahon”

Ed McMahon adalah aktor dan komedian era 60-an yang dikenal dengan kata-katanya “Anda benar, Pak!”. Haag menganalogikan seseorang yang selalu mengiyakan apa pun kata pasangannya. Pasangan yang selalu setuju saja apa kata suami atau istri, dikategorikan pernikahan sindrom “Ed McMahon” oleh Haag.

Semi-menikah
Krisis ekonomi, pada akhirnya memicu konflik pasangan menikah. Saat masalah ekonomi mulai berdampak pada relasi suami-istri, dan perceraian muncul sebagai solusi, keadaan tak nyaman mulai muncul dalam pernikahan. Pasangan menikah merasa perceraian menjadi solusi masalah mereka. Namun mereka bimbang dengannya. Akhirnya, pasangan tinggal terpisah, namun masih memiliki status suami-istri.

Sumber: dailymail.co.uk

Categories: News Tag:, ,

Komunikasi Lebih Efektif dengan “Sentuhan Pribadi”

Juni 9, 2011 Tinggalkan Komentar

 

KOMPAS.com - Siapa pun akan bersentuhan dengan komunikasi, apa pun pekerjaan atau profesinya. Setiap individu juga memiliki karakter dan kepribadian yang unik. Komunikasi dan kepribadian saling membutuhkan. Individu yang jago berkomunikasi, tapi tak memiliki kepribadian yang menyenangkan, atau tak mau memelajari ragam kepribadian orang lain, cenderung fokus hanya pada dirinya. Pesan yang disampaikannya berhenti pada dirinya sendiri, lantaran orang lain tak mau peduli. Pasalnya, ia tak memiliki kepribadian menarik, yang membuat orang lain merasa enggan atau sungkan mendengarkan pesan penting yang dibawanya.


Presenter, penulis buku, dan pemilik sekolah Public Speaking Talk-Inc, Erwin Parengkuan tertarik membahas persoalan komunikasi dan kepribadian ini. Dalam bukunya berjudul Click!, Erwin menuangkan pemikirannya, sekaligus membuka mata bahwa komunikasi tak lengkap tanpa kepribadian, begitu pun sebaliknya.


“Dunia karier maupun bisnis membutuhkan komunikator andal yang mampu menyampaikan gagasan dan informasi secara lebih efektif. Faktanya, hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan seorang komunikator. Komunikasi tidak bisa dilihat sebagai seni menyampaikan pesan saja. Komunikasi juga merupakan seni tentang kepribadian karena komunikasi adalah keterampilan yang berhubungan dengan orang. Ketika kita berbicara mengenai orang, maka hal tersebut dengan sendirinya berkaitan dengan kepribadian. Kepribadian dan komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya bahkan mustahil dipisahkan,” papar Erwin yang menulis buku Click! (komunikasi dan kepribadian) dari pengalamannya melakoni profesi presenter, fasilitator, dan pengajar.


Menurut Erwin, bila ingin berkomunikasi efektif dengan lawan bicara, mau tidak mau harus melibatkan sudut pandang kepribadian. Karena baginya, kepribadian memengaruhi pola pikir dan gaya komunikasi seseorang. Efektivitas komunikasi juga bergantung kepada kemampuan komunikator memahami kepribadian lawan bicara.


“Sehebat apa pun cara bicara kita, bila lawan bicara menganggap kepribadian kita kurang menarik, maka pesan kita akan cenderung diabaikan olehnya,” jelas Erwin.


Sebagai praktisi, Erwin mendapatkan fakta bahwa komunikasi seringkali gagal bukan karena idenya tidak cemerlang atau cara penyampaiannya  tidak bagus. Komunikasi gagal, lanjutnya, karena lawan bicara “menolak” untuk menerima gagasan yang diberikan.


Sebagai contoh, ketika ada komunikator yang kepribadiannya tidak disukai (misalnya, sering menentang pendapat atau terlalu agresif), si lawan bicara cenderung menolak pesan yang disampaikannya. Meskipun informasinya bermanfaat atau gagasannya cemerlang, tetap saja informasi atau gagasan tersebut diabaikan karena kepribadian yang tidak disukai tersebut. Sebaliknya, meskipun gagasannya biasa-biasa saja, tetapi karena komunikator memiliki kepribadian menarik, maka si penerima pesan cenderung menerima gagasan tersebut.


“Orang yang senang bicara memiliki gaya komunikasi yang berbeda dibandingkan orang pendiam. Orang perfeksionis gaya komunikasinya berlainan dengan orang yang bergaya flamboyan,” jelas Erwin memaparkan kaitan komunikasi dan kepribadian.


Orang yang bersikap “sok tahu” atau “sok pintar” biasanya sulit mendapatkan respons positif dari lawan bicara. Sementara seseorang yang rendah hati dan bersikap hangat terhadap lawan bicaranya, cenderung lebih disukai. Fakta seperti ini tentunya banyak ditemui sehari-hari. Anda tentu akan merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan orang lain, terutama mereka yang berstatus lebih tinggi dari Anda, memiliki kepribadian ramah dan menghargai Anda setulusnya.


Keberhasilan komunikasi tak hanya bergantung kepribadian komunikator. Pesan akan diterima maksimal hanya jika komunikator juga memelajari dan berusaha memahami kepribadian lawan bicaranya. Memahami kepribadian lawan bicara akan memudahkan komunikator menentukan cara berkomunikasi sesuai kepribadian tersebut.


“Seorang komunikator yang baik harus memahami kepribadian lawan bicara sebelum memulai sebuah proses komunikasi. Komunikasi akan efektif bila ada ‘sentuhan pribadi’ di dalamnya,” tandas Erwin.

Kita Makin Sering Belanja Pakaian?

Juni 9, 2011 Tinggalkan Komentar

 .

KOMPAS.com – Perempuan memang tidak bisa dilepaskan dari belanja, terutama belanja produk fashion. Seburuk apapun kondisi keuangannya, tingkat konsumsi produk fashion terutama pakaian perempuan tidak terlalu berpengaruh secara signifikan.


Lucy Siegle dari Cambridge University dalam risetnya mengatakan, sekitar 80 miliar produk garmen diproduksi setiap tahun di dunia. “Saya merasa, sepertinya separuh dari jumlah itu ada di ruang tidur saya,” ujar Siegle.


Ia menyebutkan bahwa fenomena ini diakibatkan oleh budaya yang dibawa oleh kaum selebriti, sementara tren harga cenderung menurun. Akibatnya, jaringan toko seperti H&M dan Primark yang diminati kaum perempuan juga mampu menawarkan barang-barang yang menarik dengan harga yang lebih rendah.


“Sejak kita memasuki periode deflasi harga pakaian yang luar biasa, kita bisa membeli dalam jumlah besar saat ini,” tambah Siegle.


Studi terbaru dari perusahaan fashion, Peacock, menyebutkan bahwa dari semua koleksi pakaiannya, rata-rata perempuan memiliki 22 produk garmen yang tidak pernah terpakai. Data ini juga menyebutkan setidaknya perempuan memiliki dua pasang jeans yang tidak dipakai sama sekali sejak dibeli.


Jadi, untuk apa membeli begitu banyak produk fashion jika tidak terpakai? Ada baiknya Anda memikirkan kembali fungsi pakaian yang Anda beli, daripada tergiur dengan diskon yang ditawarkan.


Sumber: Marie Claire

Categories: News Tag:, , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.