Arsip

Archive for the ‘Parenting’ Category

Cara Mengatasi Perilaku Membual pada Anak

Desember 16, 2011 Tinggalkan Komentar

Membual konotasinya sama dengan berbohong, hanya sifatnya berlebihan. Berbohong dan membual sama-sama mengungkapkan sesuatu yang tidak nyata. Hanya saya saat membual banyak bumbu yang diberikan sehingga terkesan bombastis. Biasanya, membual dilakukan dengan sadar dan sengaja.

Anak membual karena berbagai hal. Mulai mencontoh atau belajar dari lingkungan terdekatnya. Atau membual untuk menarik perhatian temannya, juga ingin dianggap hebat dalam lingkungan pertemanannya. Agar dianggap hebat, keren, dan sebagainya, sekaligus menutupi kekurangan dirinya karena tidak ada kelebihan menonjol di bidang akademis atau bidang lainnya, membual menjadi salah satu cara paling efektif yang kemudian dipilih anak.

Pingkan CB Rumondor M.Psi, pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara, Jakarta, mengatakan membual tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses. Bisa saja dimulainya di awal-awal ketika anak sudah bisa bicara lancar, sudah berkembang pemahamannya, ditambah lagi dengan kemampuannya meniru dan mencontoh. Untuk mengatasi perilaku membual pada anak, berikut tujuh caranya:

1. Jangan memojokkan perilaku anak dengan mengatakan, “Kamu berbohong, ya? Kenapa sih kamu berbohong?” Jika disikapi seperti ini, anak akan berusaha membela dan mempertahankan diri. Ini membuat anak semakin tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, karena ia takut dimarahi.

2. Tidak memberikan respons positif atau membiarkan apa yang dikatakan atau diceritakan, karena anak akan menganggap wajar perilaku seperti itu. Ia tidak akan tahu mana yang baik dan tidak, bahkan ada kecenderungan anak akan mengulangi kembali perilaku membualnya.

3. Ajak anak bicara baik-baik. Orangtua perlu memberi tahu sikap dan perilaku yang seharusnya. “Kak, Mama dengar kamu cerita nonton konser Justin Bieber pada temanmu. Padahal Mama kan tidak membelikanmu tiket. Kenapa harus bicara seperti itu sama temanmu? Lain kali, kalau bicara harus yang sebenarnya, ya. Jangan diulangi lagi, lo.” Jadi, pilihlah kata-kata yang juga tidak bersifat tuduhan langsung atau memojokkan.

4. Cari latar belakang perilaku membual tersebut. Sebetulnya dari obrolan dengan anak, orangtua bisa menggali penyebab anak membual, apakah karena mencontoh, anak merasa rendah diri sehingga ingin dianggap hebat, atau ada sebab lain. Bila karena mencontoh, orangtua perlu melakukan instrospeksi diri. Beri tahukan sikap mana yang benar dan tidak. Bila ia ingin mendapatkan perhatian, beri tahukan cara-cara yang bisa dia lakukan dengan baik untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya. Bila karena rasa rendah dirinya, bantu anak meningkatkan self esteem-nya dengan menggali atau menonjolkan kelebihan yang dimilikinya.

5. Buat kesepakatan bersama, beri anak konsekuensi bila berperilaku membual. Caranya dengan mengambil apa yang sangat disukainya, semisal tidak diberi uang jajan, tidak boleh main games di akhir pekan, dan sebagainya. Jadi anak belajar, dengan berperilaku tak baik ia akan mendapatkan sesuatu yang tak menyenangkan.

6. Beri contoh-contoh pemahaman atas perilaku tersebut. Bisa lewat cerita tentang dampak negatif yang diterima bila seseorang membual. “Kak, kalau kamu sering mengatakan tentang sesuatu secara berlebihan dan tidak sebenarnya, ketika temanmu mengetahuinya, mereka jadi tak percaya lagi. Nanti mereka tak mau main dan berteman lagi, bagaimana? Sedih, kan? Diaharapkan dengan cara ini anak mau mengambil secara perlahan-lahan perilaku membualnya.

7. Bekerja sama dengan guru di sekolah untuk membantu memperbaiki perilaku anak yang suka membual. Ceritakan pada guru tentang perilaku yang diharapkan dari si anak. Guru bisa memperhatikan perilaku si anak dan membantu memperbaiki perilakunya itu di sekolah.

Categories: Parenting

Makin Tua, Kita Makin Pintar?

Mei 22, 2011 Tinggalkan Komentar

Latihan aerobik ternyata lebih efektif dalam menumbuhkan saraf-saraf otak.

KOMPAS.com – Usia yang bertambah umumnya membuat orang lebih mudah lupa. Memori menurun secara perlahan tapi pasti, memengaruhi segala kemampuan kita dalam beraktivitas.

Namun sebuah penelitian membuktikan bahwa pikiran kita sebenarnya meningkat saat usia kita bertambah. Bahkan, pada usia yang matang itulah terjadi puncak performa otak, demikian menurut buku The Secret Life of the Grown-Up Brain: The Surprising Talents of the Middle-Aged Mind karya Barbara Strauch. Strauch mengungkapkan bahwa menurunnya kemampuan otak pada usia paruh baya sebenarnya hanya mitos. Ia juga memberikan beberapa saran untuk melatih agar otak kita tetap tajam. Berikut tiga alasan yang dikemukakannya mengapa kita justru semakin pintar saat garis-garis halus di sudut mata atau bibir mulai terjadi.

1. Pikiran Anda berkembang. Banyak yang bilang bahwa kita akan kehilangan ribuan sel-sel otak seiring bertambahnya usia. Namun penelitian menunjukkan bahwa otak kita sebenarnya terus menumbuhkan sel-sel otak saat memasuki usia 40 hingga 68 tahun. Hal ini terutama berlaku untuk lapisan saraf yang disebut myelin, yang membantu Anda memahami lingkungan di sekitar Anda.

Untuk meningkatkan kemampuan otak, Anda dianjurkan untuk berolahraga. Sebab dengan berkeringat, Anda akan meningkatkan aliran darah ke otak. Hal ini memicu regenerasi sel-sel dalam area otak yang dikaitkan dengan memori, kemampuan belajar, dan saraf-saraf lain. Latihan dalam bentuk apapun, seperti latihan kekuatan dan peregangan, akan bermanfaat. Bahkan aerobik pun dianggap lebih efektif dalam menumbuhkan saraf-saraf. Lakukan kardio seperti jalan cepat setidaknya 30 menit sehari, untuk melatih otak Anda.

2. Anda cenderung menggunakan kedua sisi otak. Ternyata, bukan hanya pengalaman yang membuat orang menjadi lebih bijak saat usianya bertambah, tetapi juga karena perubahan di dalam otak. Tak seperti orang muda yang cenderung menggunakan satu sisi otak saja, pemetaan otak menunjukkan bahwa orang-orang di usia 40 tahun ke atas cenderung menggunakan otak kanan maupun kirinya. Dengan kebiasaan baru ini, Anda akan terbantu untuk menilai situasi dengan lebih baik, dan sampai ke inti perdebatan lebih cepat.

Perbaiki kondisi otak kanan dan kiri Anda dengan mengurangi makanan yang manis, dan konsumsi lebih banyak makanan yang melawan naiknya kadar gula darah. Contohnya, ubi dan gandum utuh.
3. Anda cenderung berpikir lebih kreatif. Bagian lobus frontal pada otak yang dikaitkan dengan konsentrasi pada akhirnya akan menurun sejalan bertambahnya umur. Artinya, perhatian Anda akan lebih mudah teralihkan, atau lebih sulit mendapatkan kembali informasi, seperti mengingat nama seseorang. Meski begitu, perhatian yang lebih luas dan kurang fokus bisa memberikan keuntungan dengan memungkinkan Anda menggali solusi yang lebih kreatif bila terjadi masalah. Menurut penelitian, pikiran yang kurang fokus bisa menjadi lebih kreatif karena lebih cenderung menemukan koneksi antara ide-ide yang tampaknya tidak saling berhubungan.

Nah, untuk menajamkan kemampuan Anda, cobalah melakukan kegiatan yang menantang secara mental untuk menjaga saraf-saraf tetap aktif, setidaknya satu kali seminggu. Orang-orang yang sering berpartisipasi dalam kegiatan yang membuat mereka harus memproses informasi, seperti kursus piano atau memelajari bahasa baru, kecenderungan untuk mengembangkan Alzheimer akan berkurang separuhnya.

Sumber: Prevention

Categories: Parenting Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.