Arsip

Posts Tagged ‘Lebih’

Komunikasi Lebih Efektif dengan “Sentuhan Pribadi”

Juni 9, 2011 Tinggalkan Komentar

 

KOMPAS.com - Siapa pun akan bersentuhan dengan komunikasi, apa pun pekerjaan atau profesinya. Setiap individu juga memiliki karakter dan kepribadian yang unik. Komunikasi dan kepribadian saling membutuhkan. Individu yang jago berkomunikasi, tapi tak memiliki kepribadian yang menyenangkan, atau tak mau memelajari ragam kepribadian orang lain, cenderung fokus hanya pada dirinya. Pesan yang disampaikannya berhenti pada dirinya sendiri, lantaran orang lain tak mau peduli. Pasalnya, ia tak memiliki kepribadian menarik, yang membuat orang lain merasa enggan atau sungkan mendengarkan pesan penting yang dibawanya.


Presenter, penulis buku, dan pemilik sekolah Public Speaking Talk-Inc, Erwin Parengkuan tertarik membahas persoalan komunikasi dan kepribadian ini. Dalam bukunya berjudul Click!, Erwin menuangkan pemikirannya, sekaligus membuka mata bahwa komunikasi tak lengkap tanpa kepribadian, begitu pun sebaliknya.


“Dunia karier maupun bisnis membutuhkan komunikator andal yang mampu menyampaikan gagasan dan informasi secara lebih efektif. Faktanya, hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan seorang komunikator. Komunikasi tidak bisa dilihat sebagai seni menyampaikan pesan saja. Komunikasi juga merupakan seni tentang kepribadian karena komunikasi adalah keterampilan yang berhubungan dengan orang. Ketika kita berbicara mengenai orang, maka hal tersebut dengan sendirinya berkaitan dengan kepribadian. Kepribadian dan komunikasi memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya bahkan mustahil dipisahkan,” papar Erwin yang menulis buku Click! (komunikasi dan kepribadian) dari pengalamannya melakoni profesi presenter, fasilitator, dan pengajar.


Menurut Erwin, bila ingin berkomunikasi efektif dengan lawan bicara, mau tidak mau harus melibatkan sudut pandang kepribadian. Karena baginya, kepribadian memengaruhi pola pikir dan gaya komunikasi seseorang. Efektivitas komunikasi juga bergantung kepada kemampuan komunikator memahami kepribadian lawan bicara.


“Sehebat apa pun cara bicara kita, bila lawan bicara menganggap kepribadian kita kurang menarik, maka pesan kita akan cenderung diabaikan olehnya,” jelas Erwin.


Sebagai praktisi, Erwin mendapatkan fakta bahwa komunikasi seringkali gagal bukan karena idenya tidak cemerlang atau cara penyampaiannya  tidak bagus. Komunikasi gagal, lanjutnya, karena lawan bicara “menolak” untuk menerima gagasan yang diberikan.


Sebagai contoh, ketika ada komunikator yang kepribadiannya tidak disukai (misalnya, sering menentang pendapat atau terlalu agresif), si lawan bicara cenderung menolak pesan yang disampaikannya. Meskipun informasinya bermanfaat atau gagasannya cemerlang, tetap saja informasi atau gagasan tersebut diabaikan karena kepribadian yang tidak disukai tersebut. Sebaliknya, meskipun gagasannya biasa-biasa saja, tetapi karena komunikator memiliki kepribadian menarik, maka si penerima pesan cenderung menerima gagasan tersebut.


“Orang yang senang bicara memiliki gaya komunikasi yang berbeda dibandingkan orang pendiam. Orang perfeksionis gaya komunikasinya berlainan dengan orang yang bergaya flamboyan,” jelas Erwin memaparkan kaitan komunikasi dan kepribadian.


Orang yang bersikap “sok tahu” atau “sok pintar” biasanya sulit mendapatkan respons positif dari lawan bicara. Sementara seseorang yang rendah hati dan bersikap hangat terhadap lawan bicaranya, cenderung lebih disukai. Fakta seperti ini tentunya banyak ditemui sehari-hari. Anda tentu akan merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan orang lain, terutama mereka yang berstatus lebih tinggi dari Anda, memiliki kepribadian ramah dan menghargai Anda setulusnya.


Keberhasilan komunikasi tak hanya bergantung kepribadian komunikator. Pesan akan diterima maksimal hanya jika komunikator juga memelajari dan berusaha memahami kepribadian lawan bicaranya. Memahami kepribadian lawan bicara akan memudahkan komunikator menentukan cara berkomunikasi sesuai kepribadian tersebut.


“Seorang komunikator yang baik harus memahami kepribadian lawan bicara sebelum memulai sebuah proses komunikasi. Komunikasi akan efektif bila ada ‘sentuhan pribadi’ di dalamnya,” tandas Erwin.

Pria Berwajah Angkuh Lebih Menarik?

Mei 27, 2011 Tinggalkan Komentar

KOMPAS.com — Setiap orang pasti menyukai wajah yang ramah, yang ditandai dengan senyum atau rasa antusias. Menatap wajah ramah dan bahagia seperti itu jelas membuat kita merasa dekat, merasa diterima.

Namun, alam bawah sadar kita mungkin sering berkehendak lain. Dalam suatu penelitian yang dilakukan University of British Columbia, terlihat bahwa perempuan lebih menyukai pria yang tidak bahagia atau tidak tersenyum, dari kesan pertama.

Sebelumnya, para peneliti mewawancarai lebih dari 1.000 orang untuk menilai daya tarik pria dan wanita melalui foto. Beberapa orang dalam foto tersebut tampak tersenyum lebar, tetapi ada pula yang terlihat angkuh atau sombong (ditunjukkan dengan kepala yang mendongak dan dada yang membusung). Sementara yang lain justru terlihat malu-malu (kepala menunduk, mata tidak menatap kamera).

Responden perempuan terlihat tertarik pada kelompok pria yang angkuh dan malu-malu. Kelihatannya, perempuan menganggap ekspresi tersebut mewakili karakter yang powerful dan moody. Sebaliknya, responden pria menilai, perempuan yang tersenyum adalah yang terseksi. Mereka tidak menyukai perempuan berwajah murung, kuat, atau percaya diri.

“Secara umum, hasil studi ini mencerminkan beberapa norma jender tradisional dan nilai-nilai budaya yang muncul, berkembang, dan bertambah kuat melalui sejarah, setidaknya dalam budaya Barat,” kata profesor bidang psikologi, Jessica Tracy, dari UBC. “Hal ini juga termasuk norma-norma dan nilai-nilai ini yang bagi banyak orang sudah kuno dan mungkin berharap bahwa kita sudah melaluinya.”

Meskipun begitu, pilihan terhadap wajah yang sombong atau moody ini hanya didapat dari pandangan pertama. Dengan kata lain, penilaian itu bisa saja berubah ketika seseorang sudah mengenal sosok tersebut lebih dekat. Rasanya, tak ada orang yang senang berteman dengan orang yang sombong, ya nggak?

Sumber: Glamour

Categories: News Tag:, , ,

Mengapa Wanita Lebih Suka Pria Jangkung?

Mei 21, 2011 Tinggalkan Komentar

Kylie Minogue dan kekasihnya (Andres Velencoso) dan Kim Kardashian (bersama Kris Humpries), sama-sama memilih pria jangkung sebagai pasangannya.

KOMPAS.com – Bila ditanya mengenai konsep pria ideal, tentu perempuan akan menyebut (salah satunya) bertubuh jangkung. Rasanya tak mungkin ada perempuan yang menginginkan pria yang tingginya sama, atau bertubuh pendek. Tetapi para peneliti rupanya penasaran mengapa pria jangkung menjadi pilihan. Dan, alasan “memperbaiki keturunan” rupanya tidak termasuk dalam hasil penelitian mereka.

Menurut sebuah teori baru sih, dalam istilah evolusioner, pria jangkung lebih pandai bertarung. Pria yang bertubuh tinggi memiliki pukulan yang lebih kuat, sehingga lebih mampu melindungi lawan jenisnya. “Dari pandangan teori seleksi seksual, perempuan tertarik pada laki-laki yang kuat, karena laki-laki yang kuat dapat melindungi istri dan anak-anaknya dari laki-laki lain,” kata Dr David Carrier, dari University of Utah.

Para peneliti juga mendapati bahwa leluhur kita memukul dengan lebih keras ketika berdiri dengan dua kakinya, dan menunjukkan bahwa bertarung telah menyebabkan manusia mampu berjalan tegak. Sebelumnya, Dr Carrier memelajari kekuatan pukulan dari para ahli bela diri dan petinju pria. Menurut jurnal PLoS One, pria memukul dengan kekuatan lebih besar ketika mereka berdiri, dan dapat memukul dengan kekuatan dua kali lebih keras ketika menyerang ke arah bawah.

Sedangkan dalam teori evolusi manusia, kapasitas yang meningkat untuk menyerang ke arah bawah lawan membuat pria jangkung memiliki kemampuan yang lebih besar untuk bersaing mendapatkan pasangan. Jika teori ini benar, perempuan yang memilih laki-laki yang lebih tinggi darinya akan lebih mampu untuk bertahan.

Hasil penelitian ini memang tidak langsung disepakati kalangan peneliti lain. Mungkin saja perempuan memilih laki-laki jangkung karena tinggi badan menunjukkan gen yang baik, bukan? Tetapi Dr Carrier punya pembelaannya sendiri.

“Jika itu masalah utamanya, maka saya juga mengharapkan jawaban yang sama dari kaum pria, bahwa pria juga tertarik pada perempuan yang lebih jangkung. Tapi, pria umumnya tertarik pada perempuan yang tingginya sama, atau bahkan lebih pendek,” katanya.

Sumber: Marie Claire

Categories: News Tag:, , ,

Nafsu Seks Perempuan Lebih Besar?

Mei 21, 2011 Tinggalkan Komentar

KOMPAS.com — Sebagian orang masih menganggap seks sebagai hal tabu dan sering dikaitkan dengan aktivitas orang dewasa yang belum pantas dilakukan orang yang belum menikah. Itulah kenapa kemudian seks menjadi bahan perbincangan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

Akibatnya, seks sering dikaitkan dengan mitos-mitos yang menjadi budaya masyarakat. Semakin sering didengar, semakin dianggap sebagai kebenaran. Padahal, yang namanya mitos belum tentu benar. Dengan pengetahuan seks yang baik (dalam bentuk pendidikan kesehatan reproduksi), mitos-mitos seperti ini sedikit demi sedikit akan hilang ditelan waktu. Nah, mitos apa saja yang sering beredar di masyarakat, berikut penjelasan dr Iwan Setyawan, konsultan seks dari Klinik Curhat, Semarang.

Mitos: Nafsu wanita lebih besar dari pria
Secara umum tidak ada perbedaan dorongan seks antara wanita dan pria, karena secara hormonal mereka mempunyai kadar hormon seks estrogen, progesteron, maupun testoteron yang sama.

Barangkali secara ekspresi, wanita lebih malu untuk menunjukkan nafsu yang muncul, sehingga cenderung “menutupi” dan akhirnya tabungan nafsunya akan dikeluarkan secara meletup-letup pada saat melakukan hubungan seks dengan pasangan. Sebaliknya, pria cenderung lebih ekspresif dan blak-blakan soal seks, sehingga membuat nafsu yang mereka tunjukkan terlihat “biasa-biasa saja”.

Mitos: Wanita ras tertentu nafsunya lebih hebat
Nafsu atau dorongan seks yang hebat sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain gizi yang baik, pikiran yang sehat, dan pengaruh lingkungan. Misalnya, seseorang yang sering mengakses sesuatu yang membuatnya terangsang akan meningkatkan dorongan seks lebih cepat dibanding seseorang yang tidak merasa perlu mendapatkan rangsangan-rangsangan seperti itu.

Kalaupun ada ras atau komunitas tertentu yang mempunyai dorongan seks yang tinggi dan kelihatan lebih hebat, pasti karena kebetulan lingkungan mereka sudah terbiasa terstimulus oleh hal-hal yang bersifat erotis, atau karena kebiasaan-kebiasaan yang sering mereka lakukan, seperti olahraga teratur, pola makan seimbang, dan istirahat cukup. Pengetahuan seks yang baik juga sangat menentukan kehebatan seseorang pada saat melakukan hubungan seks.

Mitos: Posisi di atas membuat wanita cepat orgasme
Data yang diperoleh di lapangan menunjukkan sebagian wanita setelah menikah jarang atau bahkan tidak pernah mendapatkan kepuasan seksual atau orgasme, dengan beberapa alasan. Misalnya hubungan seks yang terlalu cepat, kurang variatif, atau karena mood wanita kurang baik pada saat itu.

Salah satu kunci kepuasan seks pada wanita adalah hubungan seks yang menyenangkan dalam posisi yang menguntungkan, di mana wanita memungkinkan bisa menentukan arah penetrasi yang tepat, sehingga kepuasan seks lebih mudah didapatkan. Tidak selalu harus dalam posisi di atas atau woman on top. Posisi apa pun akan tetap mampu menimbulkan orgasme dan bahkan multiple orgasms asal wanita dalam kondisi mood yang baik dan bergairah.

Mitos: Orgasme = G-spot
G-spot adalah titik erotis yang ditemukan oleh Grafenberg pada tahun 1980-an, yang kemudian dianggap sebagai area yang memudahkan seorang wanita mencapai kepuasan seksual (orgasme).

Para ahli menemukan bahwa bagian tersebut ternyata mengandung saraf-saraf yang sangat sensitif, yang apabila terangsang akan membuat wanita mengalami kepuasan luar biasa pada saat hubungan seksual. Padahal, kepuasan seksual wanita sangat banyak faktornya, antara lain mood  yang baik, posisi yang menyenangkan, dan pemanasan yang cukup, tidak hanya dari area G-spot. Tetapi memang, titik G-spot akan sangat membantu wanita mendapatkan orgasme.

Mitos: Vagina kering lebih oke
Mitos seperti ini justru menjerumuskan, karena kondisi vagina yang sangat lembab dengan keasaman tertentu sangat dibutuhkan untuk kenyamanan seseorang pada saat beraktivitas fisik, termasuk aktivitas seksual. Bisa dibayangkan jika vagina dalam keadaan kering, tentu hubungan seks menjadi sangat tidak menyenangkan dan pasti menyakitkan. Maka, tak salah bila dalam hubungan seks wanita membutuhkan pemanasan yang cukup, ditunjang mood yang baik, lubrikasi atau keluarnya cairan pelumas sangat membantu kenyamanan dalam hubungan seks. Coba bayangkan jika hubungan seks dilakukan dalam keadaan vagina kering dan tidak mengeluarkan pelumas….

Mitos: Kehamilan ditentukan oleh orgasme wanita
Beberapa pasangan suami-istri yang sudah sekian lama menikah dan belum punya keturunan menanyakan, apakah gara-gara tidak pernah mencapai orgasme setiap berhubungan seks membuat wanita tidak dapat hamil?

Faktanya, kehamilan tidak ditentukan oleh kepuasan seks, melainkan oleh pembuahan sel telur oleh sperma yang terjadi pada saat masa subur. Mereka berpikir bahwa pada saat orgasme terjadi pengeluaran sel telur yang siap dibuahi, padahal tidak demikian kenyataannya. Orgasme hanya mengeluarkan cairan yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar Bartholini dan tidak mengandung sel telur. Artinya, tidak ada kaitan antara kehamilan dan orgasme seorang wanita.

(Tabloid Nova/Hasto Prianggoro)

Categories: News Tag:, , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.